Search

Shopping cart

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Subscribe to the Newsletter

Join 10k+ people to get notified about new posts, news and tips.

Do not worry we don't spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Dinkes MBD Gelar Tracing TB Terintegrasi CKG untuk Percepat Penemuan dan Penanganan Kasus

Tiakur – Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya melaksanakan kegiatan Swakelola Tracing Tuberkulosis (TB) Terintegrasi, Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kamis (20/8), bertempat di Gedung Aula Serbaguna Kelurahan Tiakur. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat penemuan kasus Tuberkulosis sekaligus mendukung percepatan eliminasi TB secara nasional. Kegiatan tersebut mengusung semangat “Temukan, Obati, dan Sembuhkan TB Sedini Mungkin.”

Dalam kegiatan tersebut, dr. Prima Indah hadir sebagai narasumber dan memberikan edukasi kepada peserta mengenai pentingnya mengenali TB, menemukan kasus sedini mungkin, serta memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

Dalam pemaparannya, dr. Prima Indah menjelaskan bahwa penanggulangan Tuberkulosis merupakan salah satu bagian penting dari agenda pembangunan kesehatan pemerintah, termasuk upaya meningkatkan cakupan Cek Kesehatan Gratis serta menurunkan kasus TBC secara signifikan dalam lima tahun.

“Kegiatan yang kita laksanakan hari ini merupakan bagian dari upaya mempercepat eliminasi TBC, khususnya melalui peningkatan penemuan kasus secara dini,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu kunci percepatan eliminasi TBC menuju tahun 2030 adalah meningkatkan cakupan penemuan kasus. Penemuan kasus dilakukan melalui dua pendekatan, yakni penemuan aktif dan penemuan pasif.

Penemuan aktif dilakukan oleh petugas kesehatan secara proaktif untuk mencari kasus melalui pelacakan atau skrining, termasuk investigasi kontak. Petugas dapat mendatangi rumah pasien yang telah terdiagnosis TBC untuk memeriksa anggota keluarga yang tinggal serumah maupun kontak erat, seperti rekan kerja, teman, atau orang yang berada dalam lingkungan sosial yang sama.

Sementara itu, penemuan pasif dilakukan dengan menjaring masyarakat yang datang secara langsung ke Puskesmas dengan keluhan batuk atau gejala lain yang berkaitan dengan TBC untuk mendapatkan pemeriksaan le

Dalam edukasinya, dr. Prima Indah menjelaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis . TBC bukan penyakit keturunan dan bukan pula disebabkan oleh guna-guna, kutukan, maupun hal-hal mistis lainnya.

Penularan TBC terutama terjadi melalui udara. Ketika seseorang yang menderita TBC aktif pada paru-paru batuk, bersin, atau berbicara, kuman dapat keluar ke udara dan kemudian terhirup oleh orang lain, terutama mereka yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dalam waktu yang cukup lama.

“Kuman yang keluar itulah yang dapat terhirup oleh orang-orang di sekitarnya, terutama yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat. Selanjutnya, kuman tersebut masuk melalui saluran pernapasan,” jelasnya.

TBC paling sering menyerang paru-paru dan dapat ditandai dengan batuk yang berlangsung lama. Namun, bakteri TBC juga dapat menyerang organ tubuh lainnya, seperti tulang, kulit, maupun kelenjar getah bening.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TBC. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, tubuh mudah lelah, dan pada kondisi tertentu dapat disertai batuk berdarah.

Untuk mencegah penularan TBC, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi serta sirkulasi udara di dalam rumah, menggunakan masker ketika mengalami gejala batuk, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Selain itu, orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC perlu mengikuti pemeriksaan sesuai anjuran petugas kesehatan. Bagi orang yang terpapar atau terinfeksi kuman TBC tetapi belum menunjukkan gejala klinis sakit, dapat diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sesuai hasil pemeriksaan dan rekomendasi tenaga kesehatan.

“Yang paling penting, apabila sudah didiagnosis TBC, pengobatan harus dijalani secara teratur dan sampai selesai. TBC dapat disembuhkan,” tegasnya.

Dinas Kesehatan juga terus memperkuat akses pelayanan melalui Puskesmas, termasuk pemeriksaan atau diagnosis serta penyediaan obat TBC. Pencatatan dan pelaporan program TBC dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa cakupan penemuan kasus TBC di Puskesmas Tiakur dalam tiga tahun terakhir masih belum mencapai target secara optimal.

Pada tahun 2024, target penemuan kasus sebanyak 44 pasien, sementara realisasi mencapai 14 pasien. Sementara pada periode 2025 hingga 2026, target penemuan kasus sebanyak 50 pasien, sedangkan realisasi baru mencapai 7 pasien.

Data tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kegiatan pelacakan, skrining, pemeriksaan, serta edukasi kepada masyarakat agar kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat dan segera mendapatkan pengobatan.

Melalui kegiatan Tracing TB Terintegrasi CKG ini, Dinas Kesehatan Kabupaten MBD mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap TBC.

“Ayo bersama temukan kasus TB. TB dapat disembuhkan, TB bukan aib, dan obati sampai sembuh.”

Dengan semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula penderita mendapatkan pengobatan dan semakin besar peluang untuk memutus mata rantai penularan TBC di tengah masyarakat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Barat Daya berkomitmen untuk terus memperkuat upaya promotif, preventif, deteksi dini, pengobatan, serta pelibatan lintas sektor dalam mewujudkan masyarakat MBD yang sehat dan mendukung tercapainya eliminasi TBC tahun 2030.(**)